Tempat Orak-Orek KuPer

November 2, 2008

Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan

Filed under: psikologi — cuver @ 7:33 pm

(kalo dibaca sampe akhir maka akan ada korelasi antara programing mental
dan programing computer)

Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan

Minggu lalu beberapa orang kawan dari sebuah bank nasional ternama
mengajak saya makan siang sambil mendiskusikan detil acara yang akan
mereka laksanakan, di mana saya adalah pembicara di acara tersebut.
Saat menunggu makanan kawan saya, yang kebetulan adalah seorang Area
Manager, bertanya, “Pak Adi apa bisa memberikan seminar motivasi?”

“Maksudnya?” saya balik bertanya.

“Kami pernah mengundang pembicara untuk memberikan motivasi bagi
staff kami. Apa Bapak juga bisa memberikan seminar motivasi untuk
membangkitkan semangat staff?” tanyanya lagi.

Sebelum menjawab pertanyaan kawan saya ini, saya bertanya, “Apa yang
Ibu harapkan dari seminar motivasi?”

“Kami ingin semangat kerja staff kami meningkat. Namun selama ini
motivasi yang mucul setelah mengikuti seminar tidak bisa bertahan
lama. Paling lama satu-dua hari. Setelah itu semangat kerja kembali
ke keadaan semula seperti saat sebelum mengikuti seminar. Saya
sendiri sudah sangat sering menghadiri berbagai seminar motivasi.
Biasanya kalau saat seminar, motivasi saya akan sangat tinggi. Tapi
satu dua hari setelah seminar, motivasi saya gembos seperti balon
kehabisan udara. Mengapa bisa begini ya, Pak?” kejar kawan saya
dengan penasaran.

Pernahkah anda mengalami seperti yang diceritakan kawan saya ini?
Saya sendiri telah mengalaminya. Kesulitan yang selalu ditemui setiap
peserta seminar motivasi adalah motivasi yang mereka dapatkan di
seminar tidak bisa bertahan lama. Mengapa ini terjadi ? Apakah ada
cara untuk bisa mempertahankan motivasi ? Kalau ada, bagaimana
caranya? Saya mulai aktif menghadiri berbagai seminar motivasi sejak
tahun 1994. Saya membaca sangat banyak buku motivasi, mendengarkan
ratusan kaset seminar motivasi, dan bahkan sampai beberapa kali
mengikuti seminar motivasi yang lamanya dua hari, di luar negeri,
yang dihadiri lebih dari 35.000 (tiga puluh lima ribu) orang dalam
satu stadion. Saat di seminar biasanya saya membuat “keputusan besar”
untuk sukses, untuk berubah, untuk ini, untuk itu, dan masih
banyak “keputusan besar” yang lain. Namun apa yang terjadi setelah
itu? Semangat yang begitu menggebu-gebu dengan cepat hilang tak
berbekas dan saya kembali seperti diri saya sebelum menghadiri
seminar motivasi itu.

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah pembicara motivasinya tidak
mampu memotivasi audiensnya?”.Wah, kalau soal memotivasi, mereka
sungguh luar biasa. Saya katakan “mereka” karena yang berbicara di
seminar motivasi selama dua hari itu adalah para pembicara kaliber
internasional. Mereka adalah figur sukses yang menjadi contoh bagi
banyak orang. Mereka telah berhasil mengubah hidup mereka dari orang
biasa menjadi luar biasa. Mereka sukses secara finansial dengan
income 6 digit, dan ini dalam dollar Amerika bukan rupiah.

Mereka banyak membantu orang lain, keluarganya bahagia, kondisi
mental dan fisik sangat prima. Mereka adalah orang yang walk the
talk. Bukan sekedar talk the talk seperti kebanyakan orang. Namun
mengapa motivasi saya masih tetap seperti yo-yo? Sebentar naik,
sebentar turun? Padahal saya sudah dimotivasi oleh pembicara yang
sangat luar biasa?

Cukup lama saya mencari jawaban atas pertanyaan ini. Dalam upaya
mencari jawaban atas pertanyaan ini saya terus menghadiri berbagai
seminar motivasi. Saya membandingkan style pembicara satu dengan
pembicara lainnya. Saya mengajak diskusi dan bertukar pikiran dengan
sesama peserta seminar. Diakui oleh peserta seminar, ada pembicara
yang sangat bagus memotivasi audiens sehingga motivasi bisa bertahan
lama. Ada yang motivasinya hanya bisa bertahan satu atau dua hari.
Dari perbandingan yang saya lakukan saya mendapatkan satu pola yang
konsisten. Pembicara motivasi yang mampu memotivasi audiens dengan
baik, sehingga audiens tetap bersemangat untuk waktu yang lama,
mempunyai kelebihan tersendiri. Meskipun demikian, motivasi ini tidak
dapat bertahan seterusnya. Cepat atau lambat, seperti yang telah saya
alami, motivasi ini akan berkurang dan akhirnya habis… bis….
seperti balon yang kehabisan udara.

Apa sebabnya? Motivasi yang didapat saat mengikuti seminar adalah
motivasi yang berasal dari luar atau motivasi ekstrinsik. Motivasi
jenis ini tidak bisa bertahan lama. Untuk berubah dan mencapai sukses
kita harus mempunyai motivasi yang tumbuh dari dalam (intrinsik).
Pembicara motivasi yang lihai adalah pembicara yang mampu menimbulkan
motivasi intrinsik dalam diri audiensnya dan mengajarkan cara
mempertahankan motivasi itu, setelah audiens pulang ke rumah dan
menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh tantangan. Jika audiens
tidak diajarkan cara memelihara dan mempertahankan motivasinya maka
motivasi itu pasti gembos dengan sendirinya.

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar dan
bersifat sementara. Motivasi eksternal membuat kita sangat
bersemangat, pada saat di seminar, namun tidak bisa membuat semangat
itu bertahan lama. Motivasi eksternal dapat mempengaruhi kita untuk
melakukan perubahan namun tidak bisa membuat perubahan bagi kita.

Mungkin anda akan bertanya, “Mengapa motivasi yang berasal dari luar
tidak dapat bertahan lama?” Ini semua berhubungan dengan program
pikiran. Motivasi eksternal membuat kita berpikir, dan ini adalah
kerja pikiran sadar, bahwa kita dapat melakukan apa saja untuk
mencapai semua impian hidup kita. Kita tentu ingin percaya bahwa kita
bisa mencapai goal kita. Namun program pikiran, yang mempengaruhi 90%
kemampuan berpikir kita, berkata lain, “Ah…. goal itu nggak masuk
akal. Saya nggak mungkin bisa mencapainya. Saya sudah gagal berulang
kali. Latar belakang saya berbeda dengan si pembicara. Saya punya
banyak masalah dan hambatan. Saya nggak bisa ini…. nggak bisa
itu… Tentu saya akan sangat sulit berhasil.”

Kembali saya ulangi pertanyaan, “Mengapa motivasi yang berasal dari
luar tidak dapat bertahan lama?” Karena motivasi eksternal hanya
mampu membuat perubahan yang bersifat sementara. Motivasi eksternal
bekerja tidak sejalan dengan prinsip kerja otak dan pikiran bawah
sadar.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan perubahan yang
permanen? Inilah rahasianya. Empowerment atau peningkatan diri
bukanlah hasil dari proses kerja pikiran sadar. Empowerment adalah
suatu pengalaman pribadi yang kita alami karena pikiran bawah sadar
berhasil mencapai goal dan kemudian pengalaman ini naik ke level
pikiran sadar dalam bentuk perasaan “in control” terhadap hidup kita.

Kita bisa “mencoba” untuk merasa berubah. Kita bisa menggunakan
kekuatan kehendak (will power) kita. Kita bisa datang ke berbagai
seminar, membaca berbagai buku, mendengarkan kaset-kaset motivasi,
dan setelah itu, untuk beberapa saat, kita merasa lebih mampu
mengendalikan diri dan lebih fokus. Meskipun demikian kita tetap
tidak bisa berubah atau mengalami empowerment bila tidak mendapat
dukungan pikiran bawah sadar kita.

Inti perubahan adalah kita harus mengganti program-program negatip
yang ada di pikiran bawah sadar kita dengan program yang positip.
Saat kita termotivasi untuk berubah kita memutuskan untuk meng-
uninstall program negatip. Namun kita tidak diajarkan, di seminar
motivasi itu, bagaimana cara untuk meng-install program positip.

Mengapa kita perlu mengganti program negatip dengan yang positip?
Karena program mental yang ada di pikiran bawah sadar adalah program
lama – program yang akan menolak setiap informasi yang tidak sejalan
dengan informasi yang telah tersimpan sebelumnya. Sesuai dengan cara
kerja pikiran, semakin lama suatu program “menetap’ di pikiran bawah
sadar maka semakin kuat program itu. Salah satu hukum penting yang
berhubungan dengan pikiran yaitu bila terjadi konflik antara pikiran
sadar dan pikiran bawah sadar maka yang menang adalah pikiran bawah
sadar.

Satu hal yang luar biasa mengenai program ini adalah bahwa setiap
program bertindak seperti mahluk hidup yang mempunyai kehidupan
sendiri. Saat kita akan mengganti program lama dengan yang baru,
program lama ini akan melawan dengan segala cara untuk bisa
bertahan “hidup”. Itulah sebabnya mengapa orang biasanya sulit untuk
melakukan perubahan.

Seorang pakar di bidang pikiran, yang bukunya baru-baru ini saya
baca, malah mengatakan bahwa pikiran bawah sadar bekerja mirip dengan
suatu jaringan komputer (network) yang terdiri dari sangat banyak
komputer (baca: proses berpikir/program). Setiap komputer ini ada
yang saling berbagai resource dan ada yang menutup diri tidak mau
berbagi resource. Setiap komputer ini saling mempengaruhi.

Satu kisah menarik saya alami saat saya membantu seorang kawan
memprogram ulang pikirannya. Selang beberapa saat, saya didatangi
kawan saya ini dan sambil menangis ia berkata, “Pak, saya merasa diri
saya saat ini bukanlah diri saya yang sesungguhnya. Namun di sisi
lain saya merasakan ada sesuatu yang baru dalam diri saya. Seakan-
akan ada dua bagian dalam diri saya yang saling tarik ulur, saling
bertempur. Ada apa yang dengan diri saya?”

Saya lalu menjelaskan bahwa ini adalah sesuatu yang normal. Saya
pernah mengalami keadaan ini. Kawan saya yang lain juga pernah. Saya
kemudian meminta ia meneruskan programming-nya. Jika ia terus
bertahan dengan program barunya maka program ini akan semakin kuat
dan akhirnya akan mengalahkan pengaruh program yang lama. Seminggu
kemudian ia memberikan laporan bahwa ia sudah merasa jauh lebih baik
dan program barunya yang menang.

Komputer Mental
Setelah membaca sejauh ini saya yakin anda pasti akan
bertanya, “Bagaimana melakukan pemrograman ulang pikiran bawah
sadar?” Sebenarnya mudah. Caranya sama dengan, namun sudah tentu
tidak sesederhana, memprogram ulang komputer.

Sebuah komputer menerima input dan mengeluarkan output. Untuk
mengubah output, kita mesti mengubah input atau mengubah program.
Prinsip ini berlaku untuk pikiran bawah sadar. Kalau kita hanya
mengubah input maka kualitas output dibatasi oleh program yang
digunakan. Jika programnya buruk maka meskipun input diubah maka
output tetap tidak bisa maksimal. Saat kita mencoba mengubah suatu
pola perilaku atau cara berpikir dengan hanya mengubah input tanpa
mengubah program yang ada di bawah sadar maka cepat atau lambat
program lama ini akan memicu ulang pola perilaku dan cara berpikir
yang lama. Dalam hidup, sering kali lebih mudah bagi kita untuk
mengubah program dari pada mengubah input secara permanen.

Ada lima cara untuk masuk ke pikiran bawah sadar yaitu repetisi,
identifikasi kelompok/keluarga, informasi yang disampaikan oleh figur
yang dipandang mempunyai otoritas, emosi yang intens, dan hipnosis.
Kita bisa menggunakan satu cara saja atau kombinasi dari beberapa
cara sekaligus. Begitu kita dapat masuk ke pikiran bawah sadar maka
akan sangat mudah untuk melakukan perubahan atau modifikasi program.

Pemrograman ulang bawah sadar ada banyak cara. Yang pertama adalah
dengan mengubah self-talk kita (untuk self-talk, saya akan bahas di
artikel tersendiri). Cara lain adalah dengan visualisasi kreatif,
kisah sukses, simbol sukses, dan self-hypnosis. Yang lebih rumit
adalah dengan bantuan seorang hipnoterapis yang berpengalaman. Khusus
untuk hipnoterapi saya sarankan agar anda mencari orang yang benar-
benar kompeten agar jangan sampai terjadi kesalahan prosedur terapi.
Salah satu cara pemrograman ulang pikiran bawah sadar yang cukup
efektif adalah seperti yang dilakukan oleh kawan saya, seorang
motivator berbasis NLP, Tommy Siawira, dengan Fire Walk Experience.
Pengalaman berjalan di atas bara api, yang mana pikiran sadar merasa
tidak mungkin untuk dilakukan namun ternyata bisa, memberikan efek
luar biasa untuk mengubah program di pikiran bawah sadar. Efek
perubahan diperkuat lagi dengan konseling yang biasa Tommy berikan
sehingga peserta seminarnya tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa
tetap mempertahankan motivasi mereka.[]

Sumber: Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan oleh Adi W.
Gunawan. Adi W. Gunawan lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind
Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara
di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis
best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage
Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan
Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication.

1 Comment

  1. […] Mitos Motivasi: Antara Harapan dan Kenyataan « Tempat Orak-Orek KuPer […]

    Pingback by Cara mudah mewujudkan impian | Artikel Pilihan — July 1, 2009 @ 4:10 am


RSS feed for comments on this post.

Sorry, the comment form is closed at this time.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: